Image generated by TextSpace.net, hosted on ImageShack.us

6 Jan 2012

Cerita Singkat ARYO PENANGSANG


Arya Penangsang adalah seorang adiati di Jipang Panolan yang sakti dan memiliki sifat pendendam. Dengan sifatnya itu, ia memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi nyawa Raja Kerajaan Demak, Sunan Prawata. Tidak puas dengan itu, Arya Penangsang pun berniat untuk membinasakan Sultan Hadiwijaya yang berkedudukan di Pajang. Mengapa Arya Penangsang mendendam kepada Sunan Prawata? Lalu, berhasilkah ia membinasakan Sultan Hadiwijaya? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Arya Penangsang berikut ini. 


Pada masa pemerintahaan Kesultanan Demak, tersebutlah seorang adipati yang bernama Arya Penangsang. Ia berkedudukan di Kadipaten Jipang Panolan, Jawa Tengah. Arya Penangsang adalah putra Raden Kikin atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen (bunga yang tewas di tepi sungai Bengawan Solo).

Menurut cerita, Raden Kikin tewas di tangan Raden Mukmin atau Sunan Prawata dalam sebuah peperangan karena memperebutkan tahta Kerajaan Demak untuk menggantikan Sultan Trenggana yang telah wafat (1546 M). Setelah itu, Sunan Prawata pun dinobatkan sebagai Sultan Demak.

Adipati Arya Penangsang yang mendapatkan dukungan gurunya, Sunan Kudus, berniat untuk merebut tahta Kesultanan Demak dari tangan Sunan Prawata. Keinginan tersebut muncul bukan saja karena ia ingin menguasai Kerajaan Demak, tetapi juga untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.

Pada suatu malam di tahun 1549 M, Arya Penangsang memerintahkan pasukan khusus Jipang Panolan yang dikenal dengan nama Pasukan Sureng untuk membinasakan Sunan Prawata. Pasukan itu dipimpin oleh Rangkud. Setibanya di kediaman Sunan Prawata, Rangkut berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar tidur Sunan Prawata sementara para anak buahnya berjaga-jaga di luar.

Ketika itu, Sunan Prawata sedang menderita sakit sehingga tidak dapat berbuat banyak selain pasrah. Ia pun mengakui kesalahannya dan rela untuk diakhiri hidupnya oleh orang yang tidak dikenalnya itu.
“Hai, Kisanak, habisilah nyawaku! Aku akan bertanggung jawab atas kematian Raden Kikin. Tapi, tolong kamu jangan melukai istriku!” iba Sunan Prawata.

Rangkud mengabulkan permintaan itu. Namun, ketika ia menghujamkan kerisnya ke tubuh Sunan Prawata, ternyata keris itu tembus hingga mengenai tubuh istri Sunan Prawata yang berlindung di balik punggung suaminya. Tak ayal lagi, istri Sunan Prawata pun tewas.

Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawata menjadi marah. Dalam keadaan terluka parah, ia segera mencabut keris yang menancap di tubuhnya lalu dilemparkannya ke arah Rangkud. Sunan Prawata pun berhasil membinasakan Rangkud sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhir.

Sementara itu, Arya Penangsang yang telah menguasai Demak semakin bengis. Ia pun berniat membinasakan menantu Sultan Trenggana yang bernama Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir di Pajang. Untuk itu, ia mengutus empat orang anak buahnya ke Pajang. Setibanya di sana, keempat utusan tersebut justru tertangkap oleh Sultan Hadiwijaya. Namun, mereka tidak dihukum melainkan diberi hadiah dan disuruh kembali ke Jipang.

Kepulangan keempat utusan yang membawa hadiah tersebut tentu saja membuat Arya Penangsang tersinggung dan sangat marah. Ia pun memutuskan untuk menghabisi nyawa Hadiwijaya dengan tangannya sendiri.

Sultan Hadiwijaya yang mengetahui kabar tersebut menganggap Arya Penangsang telah memberontak terhadap Pajang. Namun, ia tidak ingin memerangi Arya Penangsang secara langsung karena mereka sama-sama anggota keluarga Demak dan saudara seperguruan, yaitu sama-sama murid Sunan Kudus. Untuk menghadapi pemberontak itu, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara. Barang siapa mampu membinasakan Arya Penangsang, maka ia akan diberi hadiah tanah di daerah Pati dan hutan Mataram.

Atas desakan Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan dan adik angkatnya, Ki Penjawi, yang merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijaya, pun ikut dalam sayembara tersebut. Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Martani segera menyusun rencana dan taktik peperangan melawan Arya Penangsang. Ki Juru Martani menyarankan kepada Ki Ageng Pamanahan untuk mengusahakan agar mereka dapat membawa tombak pusaka Kyai Plered milik Sultan Hadiwijaya ke medan perang karena hanya tombak itulah yang mampu melukai Arya Penangsang.

Atas saran Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan memohon kepada Sultan Hadiwijaya untuk membawa serta anak angkat sang Sultan yang bernama Danang Sutawijaya ke medan perang. Dengan begitu, Sultan Hadiwijaya akan meminjamkan keris pusakanya kepada putra angkatnya itu. Sultan Hadiwijaya pun menyetujuinya.

Pada hari yang telah ditentukan, Ki Ageng Pamanahan bersama rombongannya berangkat menuju daerah Jipang. Penyerangan itu dipimpin oleh Ki Juru Martani. Setibanya di tepi sungai Bengawan Solo yang merupakan tapal batas wilayah Sela dan Jipang, Ki Juru Martani segera mengatur siasat. Danang Sutawijaya tampak berdiri di samping seekor kuda putih yang akan ditungganginya untuk menghadapi Arya Penangsang. Di tangannya tergenggam tombak pusaka Kyai Plered yang ujungnya ditutupi kain putih dan diberi rangkaian bunga melati.

Tak jauh dari tempat pasukan Pajang bersembunyi, tampak seorang pekatik(pemelihara kuda) yang sedang mencari rumput untuk kuda milik Arya Penangsang. Ki Juru Martani pun segera menangkap pekatik itu lalu melukai telinganya dan mengalunginya surat tantangan. Setelah itu, si pekatik disuruh segera kembali ke Jipang untuk menghadap Arya Penangsang.

Setibanya di Jipang, pekatik itu segera menyerahkan surat itu kepada Patih Matahun untuk dibaca di hadapan Arya Penangsang. Isi surat itu berbunyi seperti berikut:
Hei, Penangsang! Yen sira nyata lanang sejati, payo tandhing lawan ingsun. Dak anti sapinggiring bengawan tapel wates. Yen ora wani nekani, nyata sira wandu kang memba rupa! Budhala tanpa rowang! Ingsun wong Sela wus tan bisa suwe nahan sedyaning tyas kapeing nigas janggamu!”
Artinya: “Hai, Penangsang! Jika kamu nyata lelaki sejati, mari bertanding denganku! Aku tunggu di pinggir sungai tapal batas. Jika tidak berani datang, jelaslah kamu seorang banci yang menyamar sebagai lelaki! Berangkatlah tanpa prajurit! Aku orang Sela sudah gatal ingin memenggal kepalamu!”

Mengetahui isi surat itu, Arya Penangsang langsung menggebrak meja di sampingnya. Ia lalau segera mengenakan pakaian perang dan keris pusakanya yang bernama Kyai Setan Kober.
“Prajurit! Siapkan Kyai Gagak Rimang!” seru Arya Penangsang.

Kyai Gagak Rimang adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar serta sangat lincah. Warna bulunya yang hitam mengkilap membuatnya tampak berwibawa.

Dengan mata merah penuh amarah, Arya Penangsang segera menunggangi Kyai Gagak Rimang menuju sungai tapal batas wilayah Jipang. Setibanya di tepi sungai, Arya Penangsang melihat seorang anak kecil yang sedang menunggang kuda putih di seberang sungai. Anak kecil itu tak lain adalah Sutawijaya yang sudah siap dengan tombak pusakanya. Melihat kedatangan Arya Penangsang, Danang Sutawijaya berteriak dengan suara nyaring.
“Hai, Penangsang! Lawanlah aku kalau kamu berani!”

Dada Arya Panangsang bagai dibakar api mendengar suara anak kecil yang menantangnya itu. Ia tidak sanggup lagi menahan emosinya. Dengan segera ia menarik tali kekang Kyai Gagak Rimang sehingga kuda itu meringkik dan berlari menapaki dasar Sungai Bengawan yang hanya setinggi lutut. Betapa senangnya hati Danang Sutawijaya melihat Arya Penangsang mendahuluinya mencebur ke sungai. Konon, jika terjadi peperangan atau pertarungan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai pasti akan kalah.

Tanpa ragu lagi, Sutawijaya segera menghela kuda putihnya turun ke sungai. Begitu ia berhadap-hadapan dengan Arya Penangsang, putra Ki Ageng Pamanahan itu segera memutar arah kudanya sehingga membelakangi kuda Arya Penangsang. Kuda hitam kesayangan Arya penangsang pun tiba-tiba bertingkah aneh dan menjadi liar karena kuda yang ditunggangi Sutawijaya ternyata kuda betina. Kemaluan kuda putih terlihat dengan jelas karena ekornya sengaja diikat ke atas.

Semakin lama Kyai Gagak Rimang semakin liar dan berontak hingga Arya Penangsang kerepotan mengendalikannya. Melihat Arya Penangsang sibuk mengendalikan kudanya, Sutawijaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menusukkan tombak pusaka Kyai Plered ke perut Arya Penangsang hingga robek hingga sebagian ususnya terburai.



Meski demikian, Arya Penangsang yang sakti itu masih hidup. Ia berusaha meraih ususnya yang terburai itu lalu dikalungkannya pada warangka keris pusaknya. Setelah itu, ia segera menarik tali kekang kudanya untuk mengejar Sutawijaya. Begitu mendekat, Arya Penangsang meraih tubuh Sutawijaya yang kecil itu dan membantingnya ke tanah hingga tak berdaya. Arya Penangsang segera turun dari kudanya lalu menginjak dada Sutawijaya.

Melihat putranya dalam keadaan bahaya, Ki Ageng Pamanahan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia segera menggunakan siasatnya dengan berpura-pura memihak kepada Arya Penangsang.
“Hai, Arya Penangsang! Habisi saja nyawa putra Sultan Hadiwijaya itu!” teriak Ki Ageng Pamanahan.

Arya Penangsang pun baru sadar bahwa ternyata anak kecil yang diinjak dadanya itu adalah putra musuhnya. Dengan geram, ia segera mencabut keris Kyai Brongot Setan Kober dari pinggangnya. Namun, ia lupa jika sebagian ususnya tersampir di warangka keris pusaka itu. Begitu ia mengangkat keris itu, seketika itu pula ususnya terputus. Tak ayal lagi, tubuh Adipati Jipang itu tersungkur ke tanah dan tewas seketika.

Setelah Arya Penangsang tewas, Ki Ageng Pemanahan beserta rombongannya kembali ke Pajang untuk melapor kepada Sultan Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang telah tewas. Sultan Hadiwijaya sangat gembira mendengar kabar gembira itu. Sesuai dengan janjinya, maka ia pun menghadiahi Ki Ageng Pamanahan dan Ki Penjawi tanah di Pati dan tanah di hutan Mataram.

Setelah melalui perundingan, Ki Ageng Pamanahan mendapatkan bagian tanah di hutan Mataram sedangkan Ki Penjawi mendapatkan bagian tanah di Pati. Atas restu Sultan Hadiwijaya, keduanya menuju ke bagian masing-masing. Ki Ageng Pamanahan pun mengajak putranya, Danang Sutawijaya, untuk ikut serta pindah dan menetap di daerah yang menjadi bagiannya. Di sana, mereka mengubah hutan belantara itu menjadi pusat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram.
* * *
Demikian cerita sejarah Arya Penangsang dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat bengis dan pendendam seperti Arya Penangsang pada akhirnya akan mendapatkan musibah. Arya Penangsang tewas dalam pertarungan karena selalu kurang perhitungan dalam bertindak. Hal ini terjadi karena hati dan pikirannya telah digerogoti oleh sifat dendam sehingga ia menjadi kalap.


ARYO PENANGSANG CERITA ETNIK JAWA


Pada masa Brawijaya 1 sampai turun ke 4 tahta selanjutnya, tatkala sir wingit telah merasuki tubuh makhluk hidup dan keseimbangan bathin sudah diambang keumuman, saat itulah kesaktian bentuk ilmu bagian dari kehidupan manusia hingga suatu keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang. Terciptalah zaman di mana manusia dan makhluk tak kasat mata saling berkomunikasi secara bebas. Wahyu ning zaman para Dewa, menjadikan masa kala itu disebut kejawen jawi, yang mengedepankan makna keluhuran bagi umat manusia. Perjalanan pulau Jawa, sejak zaman sanghiyang Bangau (sebelum masa WaliSongo) seluruh peradaban manusia pada masa itu terbagi menjadi tiga golongan, Manusia, Lelembut, dan Siluman dari bangsa seleman. Dari seluruh golongan ini akhirnya terpecah menjadi dua bagian yaitu, aliran putih dan hitam. Kisah terbaginya golongan ini pada akhirnya mendatangkan peperangan hingga turun sampai ke zaman di mana WaliSongo, dilahirkan. Tersebutlah nama dari sekian banyaknya para tokoh sakti beraliran hitam kala itu “Setan Kober” sosok setengah siluman yang banyak membawa risalah pertumpahan darah bagi seluruh umat manusia. Setan Kober, nama yang sangat melegendaris bagi seluruh aliran hitam sejak kerajaan Majapahit pertama didirikan. Bercerita tentang ilmu kesaktian, beliau belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga pada masa kejayaannya, Setan Kober, telah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya pernah menjabat sebagai guru besar tujuh aliran sekaligus selama 473 tahun lamanya. Di antara tujuh aliran yang dimaksud adalah, bangsa manusia, lelembut dari alam laut, bangsa jin segala penjuru alam, bangsa togog dari zaman purwacarita, bangsa siluman seleman, bangsa perkayang bumi lapis tiga dan bangsa ngahyang.
Asal usul Setan Kober, terlahir dari seorang Banaspati agung di zaman purwacarita sepuluh bernama, Raja Lautan, berasal dari keturunan siluman selemen / bangsa api. Dari hikayat yang ada, Raja Lautan, pernah dikalahkan satu kali dalam hidupnya oleh Nabiyullah Hidir AS, dimasa kejayaan Alexandria Agung. Sebuah kontemplasi yang Misteri lakukan, ternyata Setan Kober, mempunyai tempat tinggal selayaknya manusia pada umumnya, yaitu, di dalam hutan Panji, didaerah perbatasan antara Cibogo, Benda Kerep, dan pemahaman ini pernah juga tersirat dalam bukunya RA, Suladiningrat Kesepuluhan, yang berjudul “Babad Tanah Cirebon”. Bercerita tentang rumah Setan Kober, hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari tulang belulang binatang dan manusia. Dan dibelakang rumahnya berdiri kokoh satu pendopo yang terbuat dari beraneka tulang macan, kujang, kerbau dan singa. Kesehariannya, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di pendopo untuk mengajarkan beragam ilmu kepada muridnya yang berasal dari beragam golongan dan bila waktu senggang, beliau banyak mengarahkan waktunya untuk menciptakan bilahan keris sakti mandraguna, dan keris buatannya sampai kini masih banyak dimiliki sebagian ahlul bathin. Seperti halnya gambar keris diatas, keris ini buatan asli tangan Setan Kober, yang beliau berikan pada Pangeran Arya Panangsang, sebelum belaiu terbunuh oleh Jaka Tingkir, dan pada perang gerilya Indonesia, lewat sebuah hawatir akhirnya keris ini diberikan kepada pangeran Diponogoro, dan baru muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditahun 2007, kini keris ini masih dilestarikan sebagai sarana derajat dalam pemilihan seorang pemimpin. Di masa raja Jawa, nama Setan Kober, selalu disebut-sebut sebagai orang nomor satu dunia persilatan, beliau kerap menjadi jawara pilih tanding yang banyak dimanfaatkan oleh para raja Jawa sebagai pembunuh bayaran. Bahkan dimasa Brawijaya ke-5, beliau kerap menjadi ahli strategi perang istana Majapahit, dalam mengalahkan ratusan panglima pilihan seluruh kerajaan yang ada di belahan dunia. Baru namanya surut dan akhirnya ngahyang selamanya, akibat perasaan malu setelah beliau dikalahkan oleh jawara sakti pangeran Suto Wijaya Gebang. Bagaimana kisah ini bisa terjadi ? Inilah simakannya.
Dimasa perang antara Majapahit dan Demak Bintiri, yang pada saat itu rajanya bernama Raden Fatah, dengan dibantukan 101 Waliyullah, dibawah komando panglima besar Sunan Kudus. Tujuh belas tahun, dua kerajaan ini pernah terlibat sengit dan 24 kali mereka bertemu dalam peperangan hebat, 18 kali Majapahit menyerang Demak, dan 6 kali Demak balik menyerang Majapahit. Wilayah yang pernah menjadi pertumpahan darah antara Majapahit dan Demak Bintoro, diantaranya, Magelang, Sragen, Banyu Wangi, Kudus, Klaten, Tidar, Madura, Lasem, Purwo Rejo, Yogya, Batang, Semarang dan Surabaya. Dengan strategi yang matang, Setan Kober, yang kala itu menjadi bagian kerajaan Majapahit, mulai menyebar aksinya dibeberapa pelosok desa terpencil dengan cara membunuh satu persatu para jawara Islam yang dianggapnya telah berkomplot dengan kerajaan Demak Bintoro. Bahkan disamping lainnya Setan Kober, mulai menyusun kekuatan dengan mendatangi dedengkot aliran hitam dipenjuru pelosok desa, diantara nama aliran hitam yang pernah bergabung dengannya, Pangeran Tepak Palimanan, Pangeran Telaga Herang, Pangeran Ucuk Umum Banten, Pangeran Lodaya Indramayu, sebelum masuk Islam, Pangeran Samber Nyawa dari daerah Cuci Manah, Pangeran Kebo Kinabrang dari gunung Tangkuban Perahu, Ki Gede Jalu, dari Brebes, Ki Gede Kapetakan, Ki Gede Lewimunding, Ki Gede Tegal Gubug, sebelum masuk Islam, Ki Gede Purba Lanang, siluman air daerah gunung Tidar Jateng, Ki Janggala Wesi, dari siluman seleman, dan lainnya. Pada perang ke 17, kerajaan Islam Jawa, pernah dikalahkan dengan terbunuhnya beberapa Waliyullah, diantaranya Sunan Udung, Sunan Pajang, Sunan Beling, Sunan Persik, Sunan Odong, Sunan Rohmat, Sunan Qoyyim dan Sunan Menjangan atau Pangeran Sambar Nyawa. Namun dalam sejarah lain menyebutkan, kekalahan Islam pada waktu itu akibat bangsa Waliyullah, tidak semuanya turun ke medan laga dikarenakan mereka sedang berkabung atas wafatnya Sunan Ampel, salah satu WaliSongo, sehingga kala itu para Waliyullah, lebih banyak ta’ziah datang ke daerah Ampel. Di lain pihak setelah kekalahan Islam mulai menjadi buah bibir dikalangan masyarakat luas, Sunan Gunung Jati, Pangeran WalangSungsang, Sunan KaliJaga, Sunan Kudus dan Sulthan Hasanuddin Banten, mulai merapatkan barisan dengan memilih diantaranya untuk mencari beberapa tokoh aliran hitam. Pada masa itu yang diutus untuk menandingi kesaktian aliran hitam diantaranya, pangeran WalangSungsang atau Mbah Kuwu Cakra Buana, Sunan KaliJaga, pangeran Arya Kemuning, Syeikh Muhyi muda Tasik, Nyaimas Gandasari, Panguragan, Syeikh Suto Wijaya Gebang, pangeran Hasanuddin Banten, Syeikh Sapu Jagat dan Syeikh Magelung Sakti. Lewat mandat Sunan Gunung Jati, mereka bergerak dengan cara terpisah, dan lewat perjalanan panjang selama tujuh tahun lamanya, mereka akhirnya bisa menaklukkan seluruh bangsa aliran hitam. Namun hal semacam itu bukan berarti mereka mudah menandingi ilmu dedengkot para aliran hitam melainkan butuh perjuangan dan kesiapan matang, sebab dalam menjalankan tugas ini mereka juga pernah dikalahkan sewaktu duel kesaktian bersama dedengkot aliran hitam.
Seperti pangeran Arya Kemuning misalnya, beliau pernah berhadapan dengan dedengkot aliran hitam pangeran Telaga Herang, namun dalam adu kesaktian Arya Kemuning bisa dikalahkan dengan mudah, baru saat perang tanding dengan Syeikh Muhyi muda Tasik, pangeran Telaga Herang, kalah telak dan akhirnya ngahyang sampai sekarang. Juga Nyimas Gandasari, yang kala itu ditugaskan untuk menangkap pangeran Ucuk Umum, beliau kalah dalam adu kesaktian, baru tatkala Mbah Kuwu Cakra Buana, turun ke laga, pangeran Ucuk Umun, bisa dikalahkan dan akhirnya ngahyang selamanya, kisah ini terjadi di pantai Karang Bolong Banten. Sunan KaliJaga, beliau pernah dikalahkan oleh pangeran Tepak Palimanan, dalam penaklukkan wilayah Cirebon, kekalahan Sunan KaliJaga, akibat campur tangan Prabu Siliwangi, dan baru setelah kedatangan pangeran Arya Kemuning dan Mbah Kuwu Cakra Buana, pangeran Tepak Palimanan, bisa terbunuh dengan kepala terpotong dari raganya, kisah ini terjadi dipuncak bukit Palimanan, yang bernama gunung Tugel. Kembali ke cerita asal, pertempuran antara pangeran Suto Wijaya Gebang, dengan Setan Kober, di daerah hutan Pranji, tidak bisa dihindarkan lagi, kedua musuh bebuyutan ini saling mengerahkan kesaktiannya hingga sampai 40 hari lamanya. Dalam perkelahian panjang ini akhirnya dimenangkan oleh pangeran Suto Wijaya, sehingga Setan Kober, akhirnya ngahyang dihutan Pranji, selamanya. Kisah terkalahkannya Setan Kober, akhirnya jadi perbincangan orang banyak sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, selaku gurunya sangat khawatir. Pasalnya sejak kejadian itu pangeran Suto Wijaya, diangkat menjadi seorang pemimpin oleh seluruh bangsa gaibiah sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, merasa takut ilmu yang beliau berikan selama ini disalah gunakan oleh murid-muridnya.
Dalam sejarah babad tanah Jawa, ilmu pangeran Suto Wijaya Gebang, satu-satunya Ilmu paling ditakuti oelh seluruh bangsa siluman atau gaibiyah, ilmu yang dimilikinya adalah “Syahadat Majmal” dimana ilmu ini dibacakan maka seluruh gaibiyah yang ada akan mengikuti ucapan kita, bahkan dalam perang tanding melawan Setan Kober, ilmu inilah yang menjadi andalannya hingga Setan Kober sendiri, harus menerima kekalahannya dengan tubuh terbakar. Dalam kisah lain diceritan, setelah satu tahun Setan Kober, dikalahkan, pangeran Suto Wijaya Gebang, bilau akhirnya dipanggil menghadap Mbah Kuwu Cakra Buana, ‘Andika, bagaimanapun  juga dirimu telah menjadi orang yang ditakuti seluruh makhluk tak kasat mata, namun menurutku, jauhkan ilmu itu sehingga antara manusia dengan bangsa gaib ini tetap lestari selamanya, sebab kasian bagi yang lain, dengan adanya ilmu yang andika miliki sekarang, maka seluruh bangsa gaib akan punya batasan tertentu yang menjadikan mereka percaya hanya pada Andika”. Dengan patuh pangeran Suto Wijaya mengiyakannya, tanda beliau setuju dengan ucapan gurunya. Namun lain sifat lain pula kenyataannya. Ya… Benar juga ucapan Mbah Kuwu Cakra Buana, walau pangeran Suto Wijaya, sudah menerima atas mandat gurunya akan tetapi para muridnya yang berasal dari bangsa siluman dan gaib lainnya, hanya tunduk pada majikannya bukan pada orang lain sehingga walau Mbah Kuwu Cakra Buana, adalah gurunya pangeran Suto Wijaya, dengan cara sembunyi tangan akhirnya mereka tidak menerima pengakuan Mbah Kuwu Cakra Buana, dengan cara menyerang seluruh kerathon Pakung Wati Cirebon. Dalam hal ini Mbah Kuwu Cakra Buana, tidak tinggal diam, beliau langsung menghadapinya dengan pusaka “Golok Cawang” dan akhirnya seluruh bangsa gaib bisa dikalahkan dengan mudah.
Dengan kejadian ini Mbah Kuwu Cakra Buana, akhirnya menciptakan satu ilmu tandingan yaitu, Qutho Qosot, yang bertajuk: “Syetan, jin, perkayang, dedemit, lelembut dan lainnya akan tunduk atas namaku” ilmu ini pernah Misteri bedarkan pada panduan “Haekal Guru” dan sebelum kisah ini berakhir ada baiknya kita semua tahu bahwa, walau Setan Kober, telah ngahyang selamanya, namun beliau telah mempunyai satu putra sebagai generasi penerusnya yaitu “Banaspati” yang kini masih menjadi prokontra kalayak ahli bathin.
_____________________________________________________________________________________________
DANANG SUTAWIJAYA
Pada saat Sultan Hadiwijaya bertahta di Kerajaan Pajang, beliau merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa di Trunawaja lantaran dendamnya terhadap Arya Penangsang. Oleh Sultan Hadiwijaya, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang. Namun, Nyai Kalinyamat menolaknya. Ia baru bersedia kembali ke Pajang asalkan Arya Penangsang dibunuh. Sultan Hadiwijaya menyanggupi permintaan tersebut, tetapi Nyai Kalinyamat diminta pulang dulu ke Pajang.

Ketika telah berada di Pajang, segeralah Kanjeng Sultan (Sultan Hadiwijaya) memikirkan cara yang akan ditempuh untuk mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Pekerjaan itu tidak mudah, sebab Arya Penangsang terkenal sangat sakti dan mempunyai keris pusaka yang sangat ampuh bernama Kyai Setan Kober. Tiap hari Kanjeng Sultan selalu memikirkannya, tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya, setelah sekian lama tidak juga menemukan caranya, lalu dipanggillah kedua patihnya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, untuk diajak berunding.

Setelah keduanya menghadap, Kanjeng Sultan mulai menceritakan persoalannya. Singkat cerita, di hadapan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, Kanjeng Sultan menjanjikan ganjaran berupa tanah di Pati dan tanah yang terletak di hutan Mentaok apabila mereka berhasil membunuh Arya Penangsang atau Arya Jipang.

Setelah itu, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian berunding. Dalam perundingan itu, Ki Ageng Pemahanan menyampaikan pendapatnya kepada Ki Penjawi, bahwa tidak ada orang lain yang mampu membunuh Arya Penangsang selain Danang Sutawijaya. Ki Penjawi pun sependapat dengan Ki Ageng Pemanahan. Danang Sutawijaya sebenarnya adalah anak kandung Ki Ageng Pemanahan, tetapi sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan.

Kemudian, Ki Ageng Pemanahan memanggil Danang Sutawijaya untuk memberinya tugas membunuh Arya Penangsang. Danang Sutawijaya pun menyetujuinya. Dalam percakapan tersebut Ki Ageng Pemanahan memberikan nasihat-nasihat agar Danang Sutawijaya dapat memenangkan pertarungan melawan Arya Penangsang. Nasihat-nasihat tersebut adalah: (1) janganlah sekali-kali mendahului lawan mencebur Sungai Bengawan, apalagi menyeberanginya. Apabila ia nekat mendahului mencebur Sungai Bengawan, maka ia pasti kalah. Konon, apabila terjadi peperangan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai akan kalah; (2) jangan mudah terpancing oleh lawan. Bagaimanapun tingkah laku Arya Penangsang, Danang Sutawijaya harus tetap berada di pinggir Kali Bengawan; dan (3) harus memakai kuda betina.

Setelah itu, Danang Sutawijaya diberi senjata pusaka berupa sebuah tombak yang bernama Kyai Plered. Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawa dan Danang Sutawijaya kemudian berunding untuk mencari cara agar Arya Penangsang dapat ditaklukkan. Dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi akan pergi ke Jipang untuk memancing Arya Penangsang agar bersedia bertarung di Sungai Bengawan. Sementara Danang Sutawijaya disuruh untuk bersiap-siap menghadapi Arya Penangsang di tepi Sungai Bengawan.

Keesokan harinya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi berangkat ke Jipang untuk memancing kemarahan Arya Penangsang. Sampai di sana mereka bertemu dengan seorang pekatik (pemelihata kuda) yang sedang mencari rumput. Kebetulan pekatik yang ditemui itu adalah orang yang mengurusi kuda milik Arya Penangsang atau Arya Jipang. Melihat pekatik itu Ki Ageng Pemanahan memanggilnya dan langsung mengikatkan sepucuk surat di telinga si pekatik. Sesudah itu si pekatik disuruh pulang untuk menyerahkan surat tersebut kepada Arya Penangsang. Adapun isi surat itu adalah tantangan kepada Arya Penangsang untuk bertarung di Sungai Bengawan.

Ketika si pekatik tersebut telah sampai di tempat tinggal Arya Penangsang, kebetulan Arya Penangsang sedang mengadakan pasewakan bujana andrawina. Surat dari Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu disodorkan oleh si pekatik kepada Arya Penangsang. Melihat cara mengirimkan surat saja Arya Penangsang sudah marah. Apalagi ketika ia membaca isinya. Dengan tidak mengambil pertimbangan lagi ia segera mengambil keris saktinya yang bernama Kyai Setan Kober dan langsung mengendarai kuda jantan andalannya yang bernama Gagang Rimang menuju ke Sungai Bengawan.

Kuda yang bernama Gagak Rimang ini adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar tetapi lincah sekali. Warna bulunya yang hitam mengkilat, menjadikannya tampak berwibawa.

Saat Arya Penangsang sampai di pinggir kali Bengawan, ternyata Danang Sutawijaya telah menunggunya di seberang sungai. Sesuai dengan pesan ayahnya, Danang Sutawijaya datang dengan berkendaraan kuda betina serta membawa tombak Kyai Plered.

Melihat Danang Sutawijaya telah berada di seberang sungai, Arya Penangsang lalu mulai berteriak-teriak menantangnya. Untunglah Danang Sutawijaya tetap tenang. Karena sudah beberapa lama berteriak-teriak tetapi tidak mendapat tanggapan, akhirnya ia menjadi marah. Ia tidak dapat lagi mengendalikan emosinya, sehingga dengan tidak berpikir panjang Arya Penangsang terus mencebur ke sungai.

Danang Sutawijaya sangat bersenang hati melihat Arya Penangsang telah mendahului mencebur sungai. Ia lalu turun menyusul ke sungai. Di tengah Sungai Bengawan itu terjadilah perang tanding antara Arya Penangsang di satu pihak melawan Danang Sutawijaya di lain pihak. Arya Penangsang mengendarai Gagak Rimang, seekor kuda jantan, sedang Danang Sutawijaya mengendarai kuda betina. Akibatnya kuda jantan milik Arya Penangsang menjadi birahi. Selanjutnya, Gagak Rimang hanya mengekor si kuda betina, sehingga gerak-geriknya sulit dikendalikan. Dan, Arya Penangsang pun menjadi kewalahan.

Arya Penangsang menjadi agak lengah karena perhatiannya sebagian dicurahkan kepada Gagak Rimang yang sedang berontak itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Danang Sutawijaya. Dengan tombak Kyai Plered ditusuklah perut Arya Penangsang. Akibatnya perut Arya Penangsang menjadi robek dan usunya terburai.

Walaupun ususnya telah menjulur keluar dari perut, tetapi Arya Penangsang masih tetap hidup. Bahkan kelihatan lebih gigih menyerang lawannya. Dan, supaya tidak mengganggu gerakannya, maka usus yang menjulur itu lalu disampirkan pada pendok kerisnya. Peperangan pun terus dilanjutkan. Kali ini Arya Penangsang malah kelihatan semakin ganas, sedang Danang Sutawijaya posisinya mulai terdesak.

Melihat keadaan Danang Sutawijaya yang kurang menguntungkan itu, maka Ki Ageng Pemanahan yang dari awal telah bersembunyi di atas bukit, segera menggunakan siasatnya. Ia pura-pura memihak Arya Penangsang. Dengan lantang ia meneriakkan kata-kata, “Bunuh saja Danang Sutawijaya!”

Siasat itu ternyata berhasil. Arya Penangsang menjadi lebih bersemangat lagi menyerang. Dengan membabi buta dan tanpa perhitungan ia terus maju. Namun, karena terbawa emosi maka ia kurang berhati-hati, sehingga kerisnya malah mengenai dan memutuskan ususnya sendiri. Arya Penangsang tewas seketika.

Setelah Arya Penangsang tewas, maka Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian menghadap Kanjeng Sultan Pajang, melapor bahwa Danang Sutawijaya telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Mendengar berita ini, Sultan Pajang sangat gembira. Singkat cerita, setelah kedua patih itu berhasil melaksanakan tugasnya, mereka dihadiahi tanah Pati dan Mentoak, seperti apa yang telah dijanjikan sebelumnya.

Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berunding. Dalam perundingan itu diperoleh kata sepakat bahwa Ki Penjawi mendapat tanah di Pati, sedang Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah Mentoak. Sesudah kesepakatan dicapai, keduanya lalu menuju ke tempat bagiannya masing-masing.

Sewaktu akan berangkat ke Mentoak, Ki Ageng Pemanahan mengajak Danang Sutawijaya untuk ikut serta pindah ke sana. Demikianlah, tanah Mentoak yang semula berwujud hutan belantara yang mengerikan dan membahayakan, akhirnya berubah menjadi pusat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.